Kekeringan Jawa Barat Makin Mengkhawatirkan, Pakar UGM Dorong Pemulihan DAS
- Jawa Barat Kekeringan Pansela Ragam
- calendar_month Senin, 28 Sep 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
YOGYAKARTA, Pansela.co – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat dan memicu kesulitan air bersih perlu ditangani tidak hanya melalui distribusi air, tetapi juga dengan memperkuat kemampuan daerah aliran sungai (DAS) dalam menyimpan air. Pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Ir. Hatma Suryatmojo menilai tekanan terhadap sumber daya air dapat semakin besar seiring perubahan pola iklim dan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Hatma yang merupakan Pakar Hidrologi dan Pengelolaan DAS Fakultas Kehutanan UGM mengatakan krisis air terjadi ketika kebutuhan melampaui ketersediaan. Kondisi tersebut dapat semakin parah apabila kemampuan DAS menahan dan menyimpan air mengalami penurunan.
“Kalau bicara mengenai krisis air itu ada dua hal kemungkinan. Yang pertama karena kebutuhan itu lebih tinggi daripada ketersediaan. Sehingga secara neraca air, kebutuhan untuk akses air lebih besar daripada ketersediaan air itu sendiri,” ujar Hatma, Jumat (25/9/2026).
Curah Hujan Tinggi Tak Menjamin Ketersediaan Air
Hatma menilai persoalan kekeringan di Jawa Barat tidak cukup dijelaskan hanya dengan faktor musim kemarau. Secara karakteristik iklim, Jawa Barat relatif lebih basah dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga memiliki curah hujan yang lebih tinggi.
Karena itu, munculnya krisis air di wilayah yang memiliki curah hujan relatif tinggi perlu dilihat dari faktor lain, termasuk pertumbuhan kebutuhan air dan kondisi DAS.
“Kalau sampai wilayah yang menerima atau memiliki input hujan yang lebih banyak saja kekurangan air, berarti ada dua kemungkinan besar. Satu, memang kebutuhannya semakin lama semakin tinggi. Sehingga ketika ketersediaan itu terbatas, muncul krisis air, atau memang ada kerusakan sistem DAS,” katanya.
BACA JUGA: Ekonom Soroti Dampak MBG dan KDMP terhadap Ruang Fiskal dan UMKM
Pertumbuhan penduduk menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap sumber daya air. Kebutuhan untuk rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, serta berbagai kegiatan ekonomi terus meningkat, sementara ketersediaan air tetap memiliki batas.
Tekanan juga terjadi melalui perubahan penggunaan lahan, terutama di kawasan hulu DAS. Area yang semestinya berfungsi sebagai kawasan lindung dan resapan air dapat berubah menjadi permukiman maupun kawasan produksi.
Menurut Hatma, hilangnya kawasan resapan mengurangi kemampuan DAS menyimpan air hujan. Air kemudian lebih banyak mengalir sebagai limpasan permukaan menuju sungai sehingga cadangan air yang tersimpan di dalam sistem DAS berkurang.
“Ketika fungsi resapan hilang maka tidak ada air hujan yang dapat ditahan dan ditampung dalam sistem DAS. Semua air itu jadi air permukaan kemudian mengalir ke sungai. Maka kondisi DAS di Pulau Jawa itu juga semakin lama semakin kritis,” jelasnya.
Perubahan Iklim Perlu Diantisipasi
Hatma juga meminta masyarakat dan pemerintah menyesuaikan strategi pengelolaan air dengan perubahan pola iklim. Fenomena El Niño dan La Niña, menurutnya, perlu dipandang dalam konteks perubahan iklim yang dampaknya semakin terasa.
“Saya memandang bahwa dampak perubahan iklim ini sudah makin nyata dan kita sudah mengalaminya. Kita harus memahami ini bukan sebagai sebuah anomali, tetapi memang ini adalah sebuah kenormalan baru dari iklim di dunia termasuk di Indonesia,” tuturnya.
BACA JUGA: Jelang HUT ke-81, KAI Ungkap Perubahan Tren Perjalanan Masyarakat Indonesia
Dalam kondisi tersebut, penanganan kekeringan perlu berjalan dalam dua pendekatan. Pemerintah dapat melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak dalam jangka pendek.
“Dalam jangka pendek itu solusi yang paling memungkinkan. Karena kebutuhan air itu mutlak. Penanganan jangka pendek itu dengan cara suplai air,” kata Hatma.
Namun, distribusi air bersih tidak menyelesaikan persoalan secara permanen. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memulihkan fungsi resapan dan meningkatkan kapasitas DAS dalam menyimpan air.
“Kalau ada fungsi resapan ya harus dipulihkan fungsi resapannya,” tegasnya.
DAS Harus Mampu Menyimpan Air
Hatma menjelaskan pengelolaan DAS pada dasarnya bertujuan menjaga keseimbangan neraca air. Sistem DAS yang sehat tidak hanya mengalirkan air ketika hujan, tetapi juga menyimpan sebagian air untuk mempertahankan ketersediaan saat musim kemarau.
“Intinya mengelola DAS itu mengelola neraca air. Air itu kemudian akan dipergunakan untuk produktivitas, mulai dari kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, industri sampai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA: Alfamart Bersama Kodomo Gelar Lomba Mewarnai di Kebumen, Diikuti 1.100 Anak PAUD hingga SD
Penguatan fungsi DAS menjadi penting ketika pola hujan semakin tidak menentu dan periode kering dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap sumber air.
Pada musim hujan, sistem DAS diharapkan mampu menahan dan menyimpan air. Cadangan tersebut kemudian dapat mendukung kebutuhan masyarakat dan ekosistem ketika memasuki musim kemarau.
Kekeringan Berdampak ke Ekonomi hingga Pendidikan Krisis air tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumsi rumah tangga. Kekurangan air juga dapat mengganggu berbagai sektor, mulai dari pertanian, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.
Keterbatasan air dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Dalam kondisi tertentu, kekeringan berkepanjangan juga dapat meningkatkan potensi kebakaran yang kemudian menimbulkan dampak tambahan terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Kalau yang paling terkena itu dari sektor ekonomi dan sektor kesehatan. Kalau kesehatan itu terganggu maka anak-anak tidak bisa sekolah. Maka pendidikan juga akan terganggu. Jadi dampaknya cukup banyak,” ungkap Hatma.
Pengelolaan Air Bukan Hanya Tugas Pemerintah
Hatma menekankan bahwa keberlanjutan sumber daya air membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, petani, masyarakat, industri, serta kelompok pengguna air memiliki peran dalam menjaga fungsi DAS.
“Semua pihak harus aware terkait dengan bagaimana kita memastikan bahwa sistem DAS itu bekerja dengan baik. Tidak hanya orang-orang yang ditugasi mengelola DAS, tetapi semua orang harus aware dengan DAS,” tuturnya.
BACA JUGA: Haidar Azka Fathurrahman Sabet Juara 1 Festival Dalang Anak Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026
Ia secara khusus mendorong keterlibatan sektor industri. Penggunaan air dalam jumlah besar perlu diimbangi dengan kontribusi terhadap pengelolaan DAS dan upaya menjaga kualitas sumber air.
Sementara bagi masyarakat, konservasi air dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti menggunakan air secara efisien dan menjaga lingkungan dari pencemaran.
“Karena air itu sifatnya tidak tak terbatas, maka mari kita lebih bijak dalam menggunakan air. Kalau kita lebih hemat menggunakan air, berarti kita masih menyediakan air untuk kebutuhan yang lain, baik kebutuhan ekosistem maupun kebutuhan manusia,” katanya.
BACA JUGA: Kelok 23 Kretek-Girijati Mulai Uji Coba Lalu Lintas, Kendaraan Berat Masih Dilarang
Menurut Hatma, konservasi sumber daya air mencakup dua aspek, yakni mempertahankan kuantitas sekaligus menjaga kualitas. Penghematan air dapat membantu mempertahankan ketersediaan, sedangkan menjaga sungai dari sampah dan limbah berperan dalam mempertahankan kualitas air.
“Setiap individu itu melakukan dua hal, menjaga kualitas dan menjaga kuantitas. Menjaga kuantitasnya dengan cara kita hemat air. Menjaga kualitasnya dengan cara kita tidak mencemari lingkungan supaya airnya tidak kotor,” pungkasnya. ***
- person
- visibility 1
- forum 0

Saat ini belum ada komentar