Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Breaking News
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Ekonomi Bisnis » Ekonom Soroti Dampak MBG dan KDMP terhadap Ruang Fiskal dan UMKM

Ekonom Soroti Dampak MBG dan KDMP terhadap Ruang Fiskal dan UMKM

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

YOGYAKARTA, Pansela.co – Sejumlah ekonom menyoroti tekanan terhadap ruang fiskal dan perlindungan sosial dalam evaluasi satu tahun 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE). Program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi salah satu perhatian dalam forum yang digelar Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) bersama Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Jumat (25/9/2026).

Forum tersebut mengevaluasi perkembangan ekonomi dan sosial setelah AEI menyampaikan tujuh desakan darurat ekonomi setahun sebelumnya. Pembahasan mencakup kebijakan fiskal, kapasitas pemerintah daerah, perlindungan sosial, iklim usaha, independensi lembaga negara, hingga risiko bencana.

Ekonom UGM Elan Satriawan mengatakan MBG dan KDMP memiliki tujuan yang baik, tetapi implementasinya perlu memperhitungkan potensi risiko baru. Salah satu yang ia soroti adalah pembiayaan KDMP melalui skema pinjaman dengan penjaminan dana desa.

Menurut Elan, skema tersebut perlu memperhatikan kemampuan usaha yang dibangun untuk menghasilkan pendapatan guna memenuhi kewajiban pembiayaan.

“Keterbatasan anggaran daerah dapat berpengaruh pada pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik, termasuk infrastruktur dasar,” ujar Elan seperti dilansir dari ugm.ac.id

Ekonom Soroti Penyempitan Ruang Fiskal

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai program prioritas berskala besar, termasuk MBG dan KDMP, menyerap ruang fiskal secara signifikan.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya peluang penggunaan anggaran karena pemerintah juga membutuhkan ruang fiskal untuk pendidikan, kesehatan, penguatan kapasitas daerah, serta mitigasi bencana.

“Kalau kita lihat sekarang dengan semakin sedikitnya ruang fiskal yang kita miliki untuk mengatasi risiko, untuk membangun kapasitas daerah atau bahkan untuk agenda pembangunan lain, opportunity cost-nya semakin mahal,” kata Riefky.

BACA JUGA: Gethuk Goreng Poncosari Bantul Berkembang, Serap 17 Pekerja dan Tembus Produksi 7 Kuintal Sehari

Ia juga mendorong pemerintah memperluas indikator evaluasi program. Menurutnya, penilaian tidak cukup hanya melihat input dan output, tetapi juga perlu mengukur outcome, kualitas pelaksanaan, efektivitas biaya, serta manfaat program dibandingkan alternatif penggunaan anggaran.

Riefky turut menyoroti penurunan Transfer ke Daerah (TKD) yang disebutnya mencapai hampir Rp300 triliun. Menurut dia, kondisi tersebut dapat mempersempit kemampuan pemerintah daerah dalam merespons kebutuhan di wilayah masing-masing.

Cadangan Bencana Dinilai Belum Seimbang dengan Kebutuhan

Persoalan kapasitas fiskal untuk menghadapi bencana juga masuk dalam pembahasan. Dalam asesmen yang dipaparkan, cadangan anggaran bencana disebut sekitar Rp5 triliun per tahun, sementara estimasi kebutuhan pemulihan mencapai sekitar Rp22 triliun.

“Kalau kita lihat dari angkanya, cadangan bencana sekitar Rp5 triliun per tahun jauh sekali di bawah estimasi kebutuhan pemulihan sekitar Rp22 triliun,” ujar Riefky.

Angka tersebut menjadi bagian dari sorotan mengenai pentingnya memastikan kapasitas fiskal tetap memadai ketika pemerintah menghadapi bencana maupun kebutuhan pembangunan lain.

Independensi Bank Indonesia dan Transparansi Pembiayaan Disorot

Peneliti LPEM FEB UI Mervin Goklas membahas isu independensi lembaga negara, dominasi negara dalam aktivitas ekonomi, meritokrasi, antikorupsi, serta ruang sipil.

Salah satu perhatian Mervin berkaitan dengan posisi Bank Indonesia setelah mandat kebijakan bank sentral juga menempatkan pertumbuhan ekonomi dalam kerangka kebijakan.

“Posisi BI semakin dipertanyakan apakah sebetulnya Bank Indonesia fokus dalam stabilitas atau juga mengejar pertumbuhan yang pada akhirnya mendukung pemerintah,” tuturnya.

BACA JUGA: Jawa Tengah Raih Peringkat Ketiga Anugerah Layanan Investasi 2026

Mervin juga menyoroti kebutuhan untuk mencocokkan indikator statistik dengan kondisi ekonomi riil. Ia mencontohkan hubungan antara pertumbuhan sektor manufaktur dan konsumsi listrik yang menurutnya masih perlu dikaji lebih lanjut.

Selain itu, ia mempertanyakan transparansi laporan keuangan lembaga yang mengelola pembiayaan negara. Mervin menyinggung alokasi pembiayaan kepada KDMP melalui Danantara dan mempertanyakan ketersediaan laporan keuangan yang dapat digunakan untuk analisis publik.

“Banyak yang dialokasikan oleh Danantara kepada KDMP dan di saat yang sama laporan keuangan Danantara belum kami terima hingga sekarang untuk kita analisis. Apa yang bisa kita analisis kalau laporan keuangannya tidak tersedia?” katanya.

UMKM Diminta Tetap Mendapat Ruang Persaingan

Ekonom Universitas Padjadjaran Titik Anas menyoroti iklim usaha dan perlindungan sosial. Ia menyebut terdapat perkembangan pada aspek administratif, tetapi pada saat bersamaan muncul tantangan ketika intervensi negara berlangsung dalam skala besar.

Titik merujuk pada posisi Indonesia dalam World Competitiveness Report 2026 yang berada di peringkat 48 dari 70 negara sebagai salah satu indikator yang menurutnya menunjukkan masih adanya persoalan efisiensi bisnis.

“Perkembangan di klaster ini bergerak tidak merata dan sarat akan paradoks. Pemerintah telah menunjukkan sejumlah perbaikan administratif, namun di saat yang sama muncul intervensi negara berskala masif yang berisiko menciptakan sumber persoalan baru,” paparnya.

Ia juga menyoroti kemungkinan dampak MBG dan KDMP terhadap pelaku usaha lokal. Menurut Titik, pemberian fasilitas dan pembiayaan kepada entitas tertentu perlu menerapkan prinsip competitive neutrality agar tidak menciptakan persaingan yang tidak seimbang dengan UMKM.

Perlindungan Sosial Dinilai Perlu Lebih Adaptif

Titik juga mencatat anggaran perlindungan sosial 2026 mencapai Rp508,2 triliun. Namun, ia menilai besarnya anggaran perlu diikuti sistem pendataan penerima bantuan yang mampu mengikuti perubahan kondisi sosial dan ekonomi.

Menurut dia, sistem yang terlalu statis dapat menyulitkan masyarakat yang baru mengalami guncangan ekonomi, PHK, atau bencana untuk segera memperoleh bantuan.

“Masalah krusialnya adalah bansos kita tidak berkarakter adaptif. Sangat statis sehingga banyak orang yang ter-exclude walaupun dia berhak mendapatkan bantuan. Ada yang ter-include walaupun dia tidak berhak mendapatkan bantuan,” katanya.

Ia kemudian mendorong pengembangan dynamic social registry yang memungkinkan data penerima bantuan diperbarui berdasarkan perubahan kondisi masyarakat.

Titik juga menilai program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) perlu diperkuat agar tidak hanya memberikan pengganti pendapatan sementara, tetapi juga membantu proses reskilling dan penempatan kembali pekerja.

Ekonom Ingatkan Risiko Lingkungan

Peneliti National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), Ega Kurnia Yazid, membahas dampak jangka panjang dari akumulasi berbagai persoalan kebijakan.

Ia mengaitkan kebijakan pembangunan dengan risiko lingkungan dan sosial, termasuk isu food estate dan deforestasi. Dalam pemaparannya, Ega menyebut deforestasi meningkat sekitar 66 persen menjadi 433 ribu hektare pada 2025.

“Pemerintah hari ini mencoba mengulangi kesalahan yang mirip dengan skala yang jauh lebih besar, misalnya seperti agenda food estate maupun agenda deforestasi,” ujarnya.

Ega juga mendorong penguatan mitigasi bencana dan kecukupan anggaran untuk menghadapi meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap bencana.

BACA JUGA: TNI AL Amankan Kapal SPOB Nurfaizah 03, Diduga Angkut 407 Ton Solar Ilegal

Menurut dia, ukuran keberhasilan pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah juga perlu melihat bagaimana manfaat pertumbuhan tersebut terdistribusi kepada masyarakat.

“Hal yang perlu didorong adalah beyond GDP. Delapan persen itu harus terdistribusi, tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, sebisa mungkin semua elemen masyarakat harus menikmatinya,” tuturnya.

Evaluasi satu tahun 7DDE tersebut menunjukkan beragam pandangan ekonom mengenai arah kebijakan ekonomi nasional. Forum AEI dan FEB UGM menjadi ruang untuk membahas kembali kebijakan fiskal, perlindungan sosial, iklim usaha, tata kelola, serta kapasitas pemerintah menghadapi risiko ekonomi dan bencana. ***

  • person
  • visibility 1
  • forum 0
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pendaftar Kode #3 Telah Tembus 4.200 Peserta

    Pendaftar Kode #3 Telah Tembus 4.200 Peserta

    • calendar_month Kamis, 23 Nov 2017
    • account_circle pansela
    • visibility 0
    • 0Komentar

    www.inikebumen.net KEBUMEN – Sepekan menjelang gelaran Kebumen One Day Enduro ketiga (Kode #3) jumlah peserta yang sudah mendaftar telah mencapai 4.200 orang. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring masih dibukanya pendaftaran oleh panitia hingga 2 Desember mendatang. Hadiah kegiatan Kode #3 dijejer di halaman parkir Hotel Meotel Kebumen Ketua Panitia Kode #3, Rahmat Hidayat, mengatakan […]

  • Kurang Empat Hari Diketok, Ganjar Persilakan Buruh Kasih Masukan UMK

    Kurang Empat Hari Diketok, Ganjar Persilakan Buruh Kasih Masukan UMK

    • calendar_month Jumat, 26 Nov 2021
    • account_circle pansela
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Minta Ide Skala Upah Didetailkan, Ganjar Minta Buruh Buat Sendiri dalam Empat Hari Ganjar meminta masukan terkait UMK ke buruh. INI Kebumen SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberi waktu empat hari kepada perwakilan buruh agar memberikan masukan dan berembug bersama, untuk menentukan struktur skala upah sebelum upah minimum kabupaten/kota (UMK) diketok pada Selasa, […]

  • Mulai 5 Juni Besok, PNS di Kebumen Jalani New Normal

    Mulai 5 Juni Besok, PNS di Kebumen Jalani New Normal

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2020
    • account_circle pansela
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Tatanan normal baru Bupati Yazid Mahfudz, meninjau pelaksanaan rapid test di Pasar Karangsambung INI Kebumen, KARANGGAYAM – Pemerintah Kabupaten Kebumen akan mulai menerapkan tatanan normal (New Normal) baru bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai 5 Juni 2020. Sudah tidak lagi ada work from Home (WFH). Bupati Yazid Mahfudz, meminta para ASN agar beradaptasi dengan tatanan […]

  • Minat Baca Masyarakat Kebumen Diklaim Melejit

    Minat Baca Masyarakat Kebumen Diklaim Melejit

    • calendar_month Rabu, 28 Feb 2018
    • account_circle pansela
    • visibility 0
    • 0Komentar

    www.inikebumen.net KEBUMEN – Angka kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah yang berada di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Kebumen selama dua tahun terakhir meningkat cukup tajam. Plt Sekda Kebumen Mahmud Fauzi, mengunjungi salah satu stand komunitas di Pameran Buku dan Community Fair 2018 di halaman Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kebumen. Data Disarpus Kabupaten […]

  • Ide Jualan! Membuat Batagor Ikan Ternyata Mudah, Ini Resep Jajanan Khas Bandung ala Chef Devina

    Ide Jualan! Membuat Batagor Ikan Ternyata Mudah, Ini Resep Jajanan Khas Bandung ala Chef Devina

    • calendar_month Minggu, 5 Nov 2023
    • account_circle pansela
    • visibility 0
    • 0Komentar

     Resep batagor ikan (Youtube Devina Hermawan) INIKEBUMEN.net – Membuat batagor ikan ternyata mudah. Chef Devina Hermawan membagikan resep jajanan khas Bandung ini dengan mudah dan simpel. Selain itu, resep batagor ikan ala Devina Hermawan ini juga bisa jadi ide untuk jualan. Dilansir dari Youtube Devina Hermawan, berikut resep batagor ikan ala Chef Devina Hermawan untuk […]

  • Peduli Kebumen, Mahasiswa KKN UMY Kembangkan UMKM Go Digital

    Peduli Kebumen, Mahasiswa KKN UMY Kembangkan UMKM Go Digital

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2020
    • account_circle pansela
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Mahasiswa selalu berkolaborasi dengan UMKM yang menjadi mitra.  Tim KKN 27 UMY INI Kebumen, KEBUMEN – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) asal Kebumen menunjukan kepeduliannya pada kampung halaman. Mereka membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Go Digital. Untuk membantu UMKM, UMY yang tergabung dalam Tim KKN 27 UMY melakukan pengabdian masyarakat di rumah produksi Peci […]

expand_less